(Yang Penting Usaha) – Dosen Penguji Killer di Sidang Skripsi, Baru Baca Judul Aja Udah Terancam Gak Lulus!

(Yang Penting Usaha) - Dosen Penguji Killer - Hampir Tidak Lulus

Hei Stovers (Story Lovers),

Yang sedang kuliah tingkat akhir dan yang sedang skripsi (atau tesis), pasti sudah banyak mendengar tentang dosen penguji killer yang disegani di kampus karena banyak membuat mahasiswa tidak lulus sidang skripsi dan harus mengulang 1 semester lagi. Kalau belum dengar, sedikit banyak pasti berharap agar saat sidang skripsi, dapat dosen penguji yang baik hati dan ramah nilai nya (dan ramah orang nya).

Ketika tiba saat kita melihat jadwal sidang skripsi, kita tertegun dan melamun, nama si dosen penguji killer, ada di sebelah nama kita, sebagai penguji saat sidang. Kenapa begini, kenapa? Apakah usaha yang sudah dilakukan untuk membuat skripsi akan sia-sia dan gagal? Tapi, yang penting udah usaha lah ya…

=========================================================

Nama gw Gastor, gw adalah mahasiswa di Universitas yang terkenal dengan berbagai jurusan IT nya. Kata banyak orang, IT nanti sangat diperlukan di masa depan dan “bakalan kepake” deh kalo lulusan IT. Itu kata mereka-mereka yang sepertinya bisa memprediksi kalo lulusan IT masa depannya cerah dan banyak lowongan pekerjaan. Jadilah akhirnya gw kuliah mengambil salah satu jurusan IT di sana.

Ini sudah tahun keempat gw kuliah dan gw baru saja selesai menjalani sidang skripsi. Hampir saja tidak lulus, karena dosen penguji ku selain terkenal killer dan pelit nilai, juga gak suka dengan topik skripsiku.

…..

“Coba ulang sekali lagi, judul skripsi kamu apa tadi?”, tanya sang dosen penguji.

“Kenapa Pegawai Kantor Berangkat Pagi? itu pak judulnya”, jawab gw.

“Saya tanya judul skripsi kamu apa, kok kamu malah bertanya balik ke saya kenapa pegawai kantor berangkat pagi!?”, sang dosen penguji setengah membentak.

“Maaf pak… ju..dulnya… Kenapa Pegawai.. Kantor Berangkat… Pagi?”, jawab gw dengan nada terbata-bata.

“Kamu mau lulus gak?”, tanya dosen penguji lagi dengan nada mengancam.

“Mau pak! Tolong ya pak!”, kata gw dengan suara lantang dan tegas.

Gw hanya bisa pasrah kala mendengar dosen penguji bertanya mau lulus gak. Secara gak langsung, tuh dosen menyiratkan bahwa skripsi gw parah banget dan hanya bisa lulus dengan kerelaan hati nya memberikan nilai C, nilai minimum untuk lulus skripsi. Kalau dapet D, harus ulang 1 semester lagi.

“Jujur ya, terus terang, saya tidak tertarik untuk membaca skripsi kamu setelah mendengar judul yang sangat memalukan begini. Ini bisa mencoreng nama Universitas jika mahasiswa nya membuat skripsi kualitas model begini.”, kata dosen penguji

“Iya Pak, mohon maaf Pak..”, Kata gw dengan nada sedih. Membayangkan harus ngulang 1 semester lagi karena masalah judul, kan konyol banget ya. Padahal isinya kan bagus. Gw udah banyak begadang tiap malam ngebuat skripsi begini, mana sulit lagi. Apalagi pas saat memikirkan solusi mengenai masalah macet di pagi hari. Kenapa selalu macet di pagi hari? Dan kenapa pegawai kantor berangkat pas dalam keadaan macet gitu? Kan pusing ya mikirin nya. Sampe berminggu-minggu loh itu gw mikirin. Tapi mau gak mau memang harus dipikirin dan ditulis opsi solusi nya apa saja, karena terkait dengan pegawai kantor berangkat pagi. [*ini juga yang dipikirin sama Gubernur dan Walikota/Bupati, keren kan gw*]

“Satu pertanyaan terakhir sebelum saya memutuskan untuk memberikan nilai lulus atau tidak ke skripsi kamu.”, Kata dosen penguji lagi.

“I..iya pak, bo.. boleh.. silahkan bertanya apa saja, sa.. saya akan berusaha untuk menjawab dengan benar.”, Kata gw seraya pasrah dengan hasil sidang skripsinya. Kalau memang gak lulus, ya udahlah ngulang 1 semester lagi. Toh cuma masalah judul kok, bukan isinya. Di semester berikutnya, gw cuma tinggal ganti judul, isinya kan gak jadi masalah, toh gak dibahas sama si dosen penguji, berarti kan udah bener.

[Asumsi gw sih ini, tapi bener dong harus nya gitu, iya gak, iya dong?]

“Kenapa kamu memilih judul ini untuk skripsi kamu? Kan banyak judul dan topik lain yang bagus dan menarik, saya penasaran, kenapa kamu pilih ini?”, Tanya dosen penguji seraya memasang kuda-kuda counter dengan jawaban gw.

Kalo salah, gw bisa dicounter dan dibanting ala Steven Seagal. Eh pada tahu gak dia siapa? Kalian googling aja sendiri ya. Habis dibanting, lalu dipiting ala The Rock sampe gw tepuk lantai 3x untuk menyerah kalah. Ting ting ting (suara bel di ring)..

“Baik pak, saya akan menjawab pertanyaan bapak. Saya memilih judul ini karena judul-judul lain sudah diambil oleh teman-teman sekelas pak. Dosen pembimbing bilang tidak boleh ada judul atau topik yang sama. Tadinya topik skripsi saya bukan ini, judulnya lain pak.”, jawab gw sambil berharap dosen penguji mengurungkan niatnya untuk membanting dan memiting gw di lantai.. #eh

“Oh jadi begitu, oke, saya mau bertanya lagi terakhir, ini beneran terakhir ya, jangan kamu harap lebih dari ini.”, ujar nya sambil bersiap untuk membentuk kuda-kuda terakhir dengan counter mematikan.

Ah ini dia pertanyaan 1 juta dolar, bersiap lah, ayo kita pertaruhkan semuanya di saat terakhir ini. Gw udah gak punya kartu apa-apa lagi untuk dimainkan selain yang satu ini. Semua kartu gw udah kalah. Tapi gw gak akan menyerah, gw harus berusaha menang, walaupun hanya dengan 1 kartu meraih kemenangan ini mungkin hal yang mustahil. (Lagu film God of Gambler mulai dimainkan).

“Sebelum judul ini, judul atau topik apa yang ingin kamu buat skripsinya sampai direbut teman kamu dan kamu yang harus ganti judul?”, pertanyaan terakhir dari dosen penguji.

Gw kaget bukan kepalang, ini pertanyaan bener atau jebakan batman, spiderman, ironman yang menjadi satu. Kok gw berasa kaya ngelawan raja/bos terakhir di game dengan ultimate weapon damage 9999 dan ultimate armor defense 9999, tapi HP si bos terakhir cuma 5000. Terlihat gampang jawabnya, tapi kok ada rasa aneh. Bagaimanapun gw gak punya pilihan lain, harus menjawab sejujurnya, karena orang jujur disayang Tuhan, katanya.

“Saya tadinya mau mengerjakan judul atau topik Cara Bangun Pagi Untuk Berangkat ke Kantor. Tapi karena teman saya sudah duluan memilih topik itu, jadi saya harus ganti dengan judul seperti sekarang ini Pak. Ini bukan salah dia sih Pak, salah saya kenapa saya tidak lebih cepat dalam memilih judul Cara Bangun Pagi. Kalo saya memilih judul ini, saya yakin bapak pasti akan suka dengan skripsinya, tidak seperti sekarang. Mohon maaf ya Pak.” Kata-kata gw yang keluar seolah-olah menyerah kalah dan menerima hasil tidak lulus, tapi gw yakin dengan taktik psikologi terbalik. Playing victim masih berlaku dengan baik di dunia ini untuk sebagian besar orang.

“Hahaha, Wakakaka, Hahahaha… “, dosen penguji gw tertawa keras. Laah, dia tertawa, wow, WOW. Apakah taktik gw berhasil, atau dia tertawa karena berhasil mengalahkan gw dan membuat gw jadi gak lulus, atau dia tertawa karena ada yang lucu. Gw sama sekali tidak mengerti, apa yang dia tertawakan.

“Saya serius pak, itu yang terjadi, saya tidak mengada-ada. Kalau bapak tidak percaya, bapak bisa tanyakan ke dosen pembimbing kelas saya.”, kata gw menjelaskan, mengira dosen penguji tertawa karena tidak percaya sama gw.

“Hahaha, oke oke. Sudah lama saya tidak tertawa seperti ini saat ujian sidang skripsi. Kamu ini mahasiswa yang unik, tapi saya mengakui usaha keras kamu, walaupun kamu mengambil topik memalukan seperti ini.”, kata dosen penguji.

“Baiklah, saya akan meluluskan kamu dengan nilai C di skripsi ini. Tapi sebelum itu, tolong beritahu saya, teman kamu yang mengambil topik cara bangun pagi itu kapan sidang skripsinya dan dengan dosen penguji siapa?”, tanya dosen penguji lagi.

“Oh teman saya itu sidang skripsinya setelah saya ini pak, dengan dosen pengujinya bapak juga.”, jawab gw

“Really, beneran, serius kamu?”, tanya dosen penguji

“Beneran pak, bapak bisa lihat di jadwal sidang skripsi hari ini.”, kata gw

“Oh yang ini ya.”, kata dosen penguji sambil melihat daftar sidang skripsi hari ini.

“Nah oke, selamat buat kamu yang lulus sidang skripsi ini. Ingat ya kamu lulus karena sudah membuat saya tertawa, bukan karena skripsi kamu.”, jelas si dosen penguji.

“Iya Pak, Terima kasih banyak Pak, mohon maaf bila ada kesalahan.”, Kata gw sambil menangis terharu sudah lulus sidang skripsi.

“Nah, untuk teman kamu yang itu, sayangnya tidak seperti kamu yang saya luluskan. Lebih baik dia tidak hadir sidang skripsi dengan penguji saya, kecuali dia memiliki mental yang kuat.”, kata dosen penguji yang dari awal berniat untuk tidak meluluskan teman sekelasku itu.

Ngeri dah, ngeri banget ini dosen penguji killer, baru judul aja udah terancam gak lulus gw. Hahaha.

=== 1 Minggu Kemudian ===

Gw udah menerima jadwal untuk wisuda di bulan Oktober tahun ini. Akhirnya gw bisa lulus kuliah juga. gw berhasil, yes, hahaha. Gw denger teman sekelas pas bimbingan skripsi yang mengambil judul gw sebelumnya, udah seminggu dia gak masuk kuliah. Kabarnya dia depresi berat dan harus ditangani oleh seorang Psikiater yang datang ke rumah nya setiap 2 hari sekali.

Oke, masih ada waktu beberapa bulan sampai jadwal wisuda gw di bulan Oktober nanti. Enaknya ngapain sambil nunggu? Apa gw coba ngelamar kerja aja? atau buka usaha sendiri?

=========================================================

Nah Stovers, stay tune untuk kelanjutan kisah dari si Gastor berikutnya di Seri (Yang Penting Usaha).

Terima Kasih sudah datang dan membaca cerita dan opini di CeritaLagiDong.com

Salam Hangat,

Ayo, Cerita Lagi Dong,
— Mikha Luminore —

Share this:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Scroll to Top